
Hermina Computer Security Incident Response Team
Mewujudkan tata kelola keamanan siber yang tangguh di lingkungan Hermina Grup guna menjamin ketersediaan (availability), keutuhan (integrity), dan kerahasiaan (confidentiality) data rekam medis serta aset informasi.
Kontak Darurat Siber (24/7)
0851-2252-7575Hotline / WhatsApp Khusus Insiden Keamanan
Portal Pelaporan Internal
Buka Service Desk TI Bisdig1. Informasi Mengenai Dokumen
Unduh Dokumen RFC 2350 (PDF)Dokumen ini mendeskripsikan profil operasional HERMINA-CSIRT merujuk pada standar IETF RFC 2350, memuat tanggung jawab, mandat hukum, ragam layanan, dan kanal koordinasi penanganan insiden siber.
Berita & Update Kegiatan Utama
📁 Lihat Halaman Arsip
Security AdvisoryChrome dan Edge Dibajak Malware KREMLIN, Data Jadi Sasaran
Peneliti keamanan siber mengungkap operasi malware perbankan baru yang menyasar pengguna di Brasil. Malware bernama KREMLIN ini menggunakan berbagai teknik untuk membajak browser Google Chrome dan Microsoft Edge, kemudian mencuri kredensial, cookie, token sesi, hingga informasi dari halaman web yang sedang dibuka korban. Operasi tersebut ditemukan oleh Elastic Security Labs dan dilacak dengan nama REF9334. Berdasarkan penyelidikan Elastic, aktivitas kelompok di balik kampanye ini setidaknya telah berlangsung sejak Mei 2025. Pelaku menggunakan berbagai umpan yang dibuat menyerupai dokumen dari sekitar selusin bank di Brasil. Korban yang tertipu kemudian diarahkan untuk menjalankan file berbahaya yang menjadi pintu masuk bagi rangkaian malware KREMLIN. Yang membuat operasi ini menarik adalah cara KREMLIN menyembunyikan infrastrukturnya. Malware tidak hanya menggunakan server command-and-control (C2) konvensional, tetapi juga memanfaatkan smart contract Ethereum untuk menentukan lokasi server dan payload secara dinamis. Dengan teknik tersebut, pelaku dapat mengubah infrastruktur serangan tanpa harus menanamkan seluruh alamat server secara langsung ke dalam malware. Menyamar sebagai Dokumen Perbankan Rantai serangan KREMLIN dimulai dari sebuah file JavaScript yang dibuat agar terlihat seperti dokumen biasa. File tersebut dapat menyamar sebagai dokumen perbankan, invoice, maupun dokumen perusahaan. Berbeda dengan serangan yang mengeksploitasi kerentanan secara otomatis, pada tahap awal korban perlu menjalankan file tersebut secara manual. Setelah file dieksekusi, JavaScript menjalankan loader bertahap yang kemudian memeriksa lingkungan komputer korban. Pemeriksaan ini penting bagi pelaku karena KREMLIN memiliki mekanisme anti-analisis. Malware berusaha mengetahui apakah dirinya sedang dijalankan pada komputer biasa milik korban atau lingkungan pengujian keamanan seperti sandbox dan virtual machine (VM). Jika lingkungan dianggap aman bagi malware, proses serangan dilanjutkan dengan mengunduh komponen berikutnya. Peneliti Elastic Security Labs, Cyril François dan Andrew Pease, menjelaskan bahwa ekosistem KREMLIN menggunakan kombinasi loader JavaScript, installer berbasis C++, dan ekstensi browser berbahaya. Tujuan akhirnya adalah mencuri kredensial, token sesi, dan berbagai data sensitif yang tersimpan atau diproses melalui browser. Memanfaatkan Ethereum untuk Menentukan Infrastruktur Salah satu bagian yang paling menonjol dari operasi KREMLIN adalah pemanfaatan blockchain. Pelaku menggunakan smart contract Ethereum sebagai semacam mekanisme penyimpan alamat atau dead drop resolver. Melalui metode ini, malware dapat mengambil informasi mengenai lokasi server C2 maupun tempat penyimpanan payload. Teknik tersebut memberikan fleksibilitas bagi operator malware. Jika salah satu server atau domain diblokir, informasi tujuan baru dapat diberikan melalui smart contract tanpa harus membuat ulang seluruh malware. Tahap kedua KREMLIN memiliki beberapa tugas. Malware membuat mekanisme persistensi melalui scheduled task, mengambil lokasi unduhan dari smart contract Ethereum, mengunduh file yang dibutuhkan, lalu menjalankan komponen tahap berikutnya. Beberapa komponen yang diunduh mencakup installer ekstensi browser berbahaya, .NET PE Injector, serta SentinelMemoryScanner.exe. File terakhir merupakan program sah yang berhubungan dengan SentinelOne. Namun, dalam operasi ini, file tersebut disalahgunakan untuk menjalankan teknik DLL sideloading. Menyalahgunakan File Sah SentinelOne Installer KREMLIN yang dibuat dengan C++ memanfaatkan SentinelMemoryScanner.exe untuk memuat payload utama yang tidak ditandatangani secara digital. Payload tersebut menyamar sebagai SentinelAgentCore.dll. Setelah berjalan, DLL kembali melakukan pemeriksaan terhadap lingkungan korban. Malware memeriksa proses yang sedang berjalan dan karakteristik perangkat keras, termasuk jumlah CPU serta kapasitas RAM. KREMLIN juga memiliki daftar proses tertentu yang digunakan untuk mendeteksi kemungkinan keberadaan alat analisis atau lingkungan virtual. Jika proses yang ditemukan cocok dengan daftar tersebut, malware dapat menghentikan eksekusinya. Hal yang sama dilakukan apabila spesifikasi perangkat tidak memenuhi kondisi yang telah ditentukan. Dalam salah satu pemeriksaannya, malware akan berhenti jika komputer memiliki kurang dari dua CPU atau RAM tidak lebih dari 3 GB. Mekanisme ini menunjukkan bahwa operator KREMLIN berusaha memastikan malware hanya aktif pada sistem yang dianggap sebagai komputer korban sebenarnya. Memasang Ekstensi Palsu di Chrome dan Edge Setelah tahapan awal berhasil, KREMLIN kembali menghubungi smart contract Ethereum untuk mendapatkan informasi infrastruktur berikutnya. Dari sana, malware memperoleh dua domain, yaitu volmira[.]site dan zaviro[.]online. Salah satu domain digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai ekstensi browser yang akan dipasang pada komputer korban. Ekstensi tersebut memiliki versi 1.0.0 dan ID ("ndpbidppejfanjbhfgjlohfanbfbklff"). Agar terlihat tidak mencurigakan, ekstensi menggunakan nama AVSync System Inc. Sebelum memasang ekstensi, malware terlebih dahulu memeriksa apakah ekstensi dengan ID tersebut sudah ada di komputer. Jika belum terpasang, atau versi yang tersedia berbeda dengan versi pada server, malware mengunduh ekstensi dalam bentuk arsip ZIP. Masalahnya, ekstensi tersebut bukan sekadar program tambahan biasa. Setelah terpasang, ekstensi dapat memperoleh akses yang luas terhadap aktivitas browser korban. Melewati Perlindungan Chromium Untuk memasang ekstensi tersebut, KREMLIN memanfaatkan teknik bypass integritas yang dikenal sebagai Phantom Extension dan GhostChrome-X. Teknik tersebut memanfaatkan perubahan pada file Secure Preferences milik browser berbasis Chromium. Secara sederhana, malware mengubah konfigurasi tertentu pada browser, mengaktifkan mode pengembang, kemudian memodifikasi objek protection.macs menggunakan metadata yang telah dipalsukan. Tujuannya adalah membuat browser menerima ekstensi berbahaya tersebut seolah-olah telah terdaftar dengan benar. Teknik ini menjadi salah satu bagian penting dari serangan karena ekstensi browser biasanya memiliki mekanisme perlindungan untuk mencegah pemasangan atau perubahan yang tidak sah. Elastic juga mencatat bahwa pendekatan serupa dilaporkan digunakan oleh aktor APT31 yang terkait dengan China dalam kampanye pada akhir Agustus 2026. Dalam kampanye tersebut, APT31 disebut menggunakan exploit kit bernama BlueMoon yang memanfaatkan kerentanan zero-day Chrome dan Windows yang kemudian telah ditambal. Targetnya adalah memasang ekstensi pencuri kredensial bernama GemStone. Tidak Hanya Mencuri Password Setelah ekstensi KREMLIN berhasil terpasang, ancaman terhadap korban menjadi lebih serius. Malware mulai mengumpulkan data dari berbagai profil browser dan mengirimkannya ke server C2. Salah satu server yang ditemukan peneliti menggunakan alamat luizestrelhashapr[.]online:443. Ekstensi meminta izin luas untuk mengakses tab, cookie, penyimpanan browser, serta API webRequest. KREMLIN juga membuat ID unik untuk setiap korban. ID tersebut disimpan di browser dan digunakan untuk mengidentifikasi perangkat ketika berkomunikasi dengan server C2. Melalui koneksi WebSocket, operator malware dapat mengirim berbagai perintah ke ekstensi. KREMLIN dapat mengambil screenshot dari tab aktif, mengumpulkan daftar tab dan domain, serta mengetahui tab mana yang sedang aktif. Malware juga dapat mencuri cookie, sessionStorage, dan localStorage dari halaman yang sedang dibuka. Data tersebut sangat berharga bagi penyerang karena cookie atau token sesi dalam kondisi tertentu dapat digunakan untuk mempertahankan akses ke akun tanpa harus memasukkan username dan password kembali. Selain itu, KREMLIN dapat mengambil kode HTML lengkap dari halaman yang sedang dibuka, mengunduh HTML yang dikendalikan penyerang, serta memperbarui konfigurasi. Malware juga memiliki fungsi untuk mengambil hingga 1.000 riwayat browsing dari 15 hari terakhir. Namun, menurut peneliti, kemampuan ini kemungkinan tidak berfungsi karena manifest ekstensi tidak memiliki izin history yang diperlukan. Menyamarkan Komunikasi sebagai File CSS KREMLIN memiliki cara lain untuk menyembunyikan aktivitasnya. Selain menggunakan WebSocket, ekstensi secara berkala mengakses endpoint /google_api/ menggunakan permintaan yang dibuat seolah-olah sedang mengambil file CSS. Setiap nama file CSS memiliki fungsi berbeda. 108766d0.css, misalnya, digunakan untuk mengirim cookie dan data penyimpanan browser. Sementara 41f7b187.css digunakan untuk mengirim informasi mengenai ID tab, domain, serta status tab aktif. File b83fa72d.css digunakan untuk mengirim riwayat browser yang dikompresi. Kemudian 0f51ad2f.css digunakan untuk mengirim screenshot JPEG beserta URL halaman dan ID korban. Ada pula e4cce14e.css yang digunakan untuk mengirim HTML lengkap halaman web. File 6c0c92f6.css berfungsi mengirim permintaan HTTP yang berhasil dicegat. Sementara itu, 81d47cb6.css digunakan untuk mengambil konfigurasi target, termasuk daftar domain dan aturan intersepsi HTTP. Adapun a98cb43d.css digunakan untuk mengambil aturan pengalihan menuju URL tertentu. Dengan menyamarkan komunikasi sebagai permintaan file CSS, aktivitas malware dapat terlihat seperti lalu lintas browser biasa. Teknik ini berpotensi membuat aktivitas berbahaya lebih sulit dibedakan dari komunikasi web normal. Sudah Aktif Sejak Mei 2025 Menurut Elastic, kelompok di balik KREMLIN diperkirakan telah aktif setidaknya sejak Mei 2025. Aktivitas mereka tidak hanya berkaitan dengan ekstensi browser. Dalam sejumlah kampanye sebelumnya, pelaku juga mendistribusikan Trojan yang sudah tersedia secara umum, termasuk Pulsar RAT dan Remcos RAT. Penggunaan smart contract Ethereum dalam operasi tersebut diperkirakan baru dimulai pada 19 Mei 2026. Secara keseluruhan, Elastic mengaitkan aktivitas kelompok ini dengan tujuh kampanye berbeda sejak 16 Juni 2025. Perubahan teknik tersebut menunjukkan bagaimana operator malware terus mencari cara untuk membuat infrastruktur serangan lebih fleksibel sekaligus sulit dihentikan. KREMLIN Juga Punya Mekanisme Anti-Sandbox Selain pemeriksaan perangkat keras dan proses, KREMLIN menggunakan metode lain untuk mendeteksi lingkungan analisis. Malware melakukan apa yang disebut network canary check . Caranya, KREMLIN mencoba mengakses sebuah halaman melalui domain yang sebelumnya belum terdaftar. Jika malware mendapatkan respons yang valid dari domain tersebut, sistem dianggap mungkin merupakan sandbox yang sengaja dibuat untuk mensimulasikan koneksi internet. Dalam kondisi tersebut, KREMLIN justru akan membuat dirinya mengalami crash dan menghentikan aktivitas. Elastic kemudian mengambil langkah dengan mendaftarkan domain yang digunakan sebagai network canary tersebut. Hasil pemantauan menunjukkan terdapat 1.515 sistem terinfeksi yang mencoba melakukan koneksi ke domain tersebut. Lebih dari 98 persen sistem yang terdeteksi berdasarkan geolokasi alamat IP berada di Brasil. Langkah Elastic tersebut membuat mekanisme pertahanan malware untuk sementara terganggu. Meskipun perangkat yang terdeteksi masih dapat memiliki komponen akhir KREMLIN, gangguan terhadap mekanisme anti-analisis memberi tambahan waktu bagi tim keamanan untuk mendeteksi keberadaan malware dan melakukan remediasi. Kasus KREMLIN menunjukkan bahwa ancaman terhadap pengguna browser kini tidak hanya datang dari file atau aplikasi yang mencuri password secara langsung. Ekstensi berbahaya dapat menjadi pintu masuk untuk mengakses cookie, token sesi, riwayat browsing, isi halaman web, hingga komunikasi yang berlangsung melalui browser. Penggunaan blockchain juga memperlihatkan perkembangan lain dalam operasi malware. Smart contract tidak hanya digunakan untuk aktivitas legal di ekosistem kripto, tetapi dapat disalahgunakan sebagai bagian dari infrastruktur serangan untuk membuat lokasi C2 dan payload lebih dinamis. Bagi pengguna, kasus ini menjadi pengingat bahwa browser merupakan salah satu aset penting yang perlu dilindungi. Memasang ekstensi dari sumber yang tidak jelas, menjalankan file JavaScript dari dokumen atau email mencurigakan, serta mengabaikan peringatan keamanan dapat membuka jalan bagi malware untuk mengambil alih data yang tersimpan di browser. Sementara bagi tim keamanan, aktivitas KREMLIN menunjukkan pentingnya memantau perubahan pada konfigurasi browser, pemasangan ekstensi yang tidak sah, aktivitas DLL sideloading, scheduled task mencurigakan, serta komunikasi keluar yang tidak biasa. Deteksi terhadap indikator-indikator tersebut dapat membantu organisasi menemukan infeksi sebelum data sensitif korban berhasil dicuri. https://csirt.or.id/penulis/rita-puspitasari
Baca selengkapnya →
KegiatanHermina CSIRT Terapkan SIEM 24/7 dan Perkuat Keamanan Data Pasien
JAKARTA — Rumah Sakit (RS) Hermina resmi memperkuat benteng keamanan siber dan perlindungan data kesehatan pasien melalui implementasi sistem Security Information and Event Management (SIEM). Langkah strategis ini mencakup pengawasan infrastruktur teknologi informasi secara berkesinambungan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Penerapan sistem baru ini merupakan tindak lanjut langsung atas keputusan pemerintah yang tertuang dalam Surat Edaran Bersama (SEB) No. HK.02.01-MENKES-158-2026. Regulasi tersebut mewajibkan pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber ( Computer Security Incident Response Team / CSIRT) di setiap fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi potensi ancaman kejahatan digital. Departemen TI dan Bisnis Digital RS Hermina bersama Tim IT internal mengelola penuh pemantauan SIEM ini secara mandiri. Langkah tersebut diambil guna menjaga efisiensi operasional sekaligus menekan ketergantungan pada pihak ketiga tanpa mengesampingkan standar keamanan industri. Untuk mengoptimalkan fungsi pengawasan, RS Hermina menerapkan pembagian peran ( role split ). Tim IT RS bertugas mengelola penyediaan infrastruktur log dan pemantauan harian, sementara Tim Hermina CSIRT difokuskan pada penanganan cepat ( incident response ) serta investigasi forensik digital apabila ditemukan anomali sistem. Sistem SIEM ini mengonsolidasi seluruh catatan aktivitas ( log ) dari server SIMRS, Rekam Medis Elektronik (RME), basis data, hingga perangkat jaringan ke dalam satu portal pusat pengawasan. Skema terpadu ini memfasilitasi deteksi dini ancaman siber secara real-time sekaligus menyediakan jejak digital ( audit trail ) yang akurat untuk kebutuhan audit internal maupun eksternal. Pengelolaan seluruh aktivitas data kesehatan pasien dalam sistem ini dijamin keutuhan dan kerahasiaannya. Langkah ini sekaligus menegaskan kepatuhan RS Hermina terhadap aturan Rekam Medis Elektronik dari Kementerian Kesehatan serta Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Pihak manajemen memastikan seluruh proses konfigurasi dan integrasi teknis SIEM dijalankan secara bertahap oleh Tim IT RS, sehingga tidak mengganggu kualitas maupun kelancaran layanan operasional kesehatan harian kepada masyarakat. Sebagai bagian dari rangkaian aktivasi sistem, RS Hermina menggelar sosialisasi dan koordinasi teknis internal bagi seluruh staf IT yang dijadwalkan berlangsung secara daring pada Jumat (18/9/20). -fkh-
Baca selengkapnya →2. Profil, Konstituen & Kewenangan
Visi & Misi
Visi
Mewujudkan pengelolaan keamanan informasi di lingkungan Hermina Grup sesuai dengan prinsip keamanan informasi yaitu untuk menjamin ketersediaan (availability), keutuhan (integrity), dan kerahasiaan (confidentiality) aset informasi.
Misi
- Menyelenggarakan kegiatan pengamanan informasi dan pencegahan insiden keamanan informasi.
- Membangun kesadaran keamanan informasi pada SDM di lingkungan Hermina Group.
- Menyediakan dukungan TIK terhadap corporate service yang efisien.
- Menjamin keamanan informasi pada aset informasi.
Cakupan Konstituen
HERMINA-CSIRT melayani dan mengkoordinasikan keamanan siber pada entitas berikut:
- Seluruh unit kerja kantor pusat PT Medikaloka Manajemen.
- Seluruh cabang Rumah Sakit Hermina Group di seluruh Indonesia beserta seluruh entitas anak perusahaan terkait.
- Rumah sakit dan/atau faskes yang pengelolaannya dioperasionalkan oleh Hermina Group (KSO/Manajemen) yang mendapatkan proteksi standar.
- Seluruh mitra kerja, pemangku kepentingan, dan sistem terhubung ke ekosistem jaringan dan Pusat Data RS Hermina.
Kewenangan Administratif & Penindakan Teknis Darurat
1. Kewenangan Administratif & Koordinasi Sektoral
- Menerima, memverifikasi, dan mengkoordinasikan laporan insiden siber dari seluruh cabang dan entitas pengelola.
- Mewakili dan mendampingi konstituen dalam koordinasi eskalasi resmi ke BSSN, Kemenkes RI, Kemkomdigi, serta CSIRT sektoral terkait.
2. Kewenangan Mitigasi Darurat (Containment)
- Melakukan audit log, telemetri, dan forensik digital pada SIMRS serta infrastruktur jaringan grup Hermina.
- Hak Isolasi Sistem: Berwenang melakukan pemutusan akses darurat, isolasi subnet, atau penonaktifan sementara server terinfeksi demi melindungi keutuhan data rekam medis pasien.
3. Kebijakan Penanganan & Layanan
Jenis Insiden Utama yang Ditangani (Otoritas Penindakan)
Triase Insiden
Meliputi tahapan Identifikasi, Investigasi, Penghapusan (Eradication), dan Pemulihan (Recovery). Tim Security Operations Center (SOC) menganalisis anomali trafik jaringan, log server, dan perangkat proteksi secara berkala.
Koordinasi & Penyelesaian
Ditangani terpusat oleh Departemen TI dan Bisnis Digital (Dep TI Bisdig) melalui portal internal Service Desk. Penyelesaian berlandaskan SPO resmi Penanganan Gangguan Keamanan Informasi Hermina.
Aktivitas Proaktif
Sosialisasi Security Awareness berkala bagi tenaga medis/karyawan rumah sakit, evaluasi berkala implementasi SMKI, serta perumusan standarisasi keamanan informasi di seluruh unit Hermina.
Formulir Pelaporan Insiden Siber
Kanal formal pelaporan insiden keamanan informasi sesuai ketentuan RFC 2350 HERMINA-CSIRT
4. Informasi Kontak & Komunikasi Aman
Sekretariat HERMINA-CSIRT
- Alamat Kantor:Gedung Hermina Tower
Jalan HBR Motik Blok B-10 Kav 4
Jakarta Pusat 10610, Indonesia - Hotline & WhatsApp Darurat:085122527575
- Alamat E-mail Kedinasan:csirt@herminahospitals.com
- Portal Service Desk Internal:https://servicedesk.herminahospitals.com/
Informasi Kunci Publik (PGP Key)
Unduh .ASC1073F95588909FC1 (4096 Bits)0EFF 568D 37B0 54D1 AAEE B4AB 1073 F955 8890 9FC1Penyangkalan dan Batasan Tanggung Jawab (Disclaimers)
Kapasitas & Triase: Penanganan forensik mendalam bergantung pada lisensi dan kapabilitas internal. Skala prioritas ditentukan berdasarkan dampak terhadap SIMRS dan keselamatan pasien.
Tanggung Jawab Pemilik Sistem: Tindakan mitigasi darurat tidak meniadakan kewajiban unit cabang untuk melakukan pencadangan data (backup) dan pembaruan berkala sistem lokal.
Dampak Tindakan Darurat: Penanganan dilakukan dengan prinsip best-effort. Tim tidak dibebani kerugian operasional akibat tindakan isolasi darurat yang ditempuh demi keamanan ekosistem RS yang lebih luas.